Curahan hati ini sengaja kutuliskan untukmu. Untuk kamu yang baru saja mengalami cobaan hidup yang meluluh lantakkan bagi wanita manapun di dunia ini. Orang terkasih, tercinta dan tersayang. Saudara dan sahabatku, Mirah Delima.
Katamu aku wanita biasa. Namun pengalamanmu dalam menghadapi badai gelombang kehidupan membuatmu menjadi seorang wanita luar biasa. Perpisahan yang menyakitkan dengan pasangan hidupmu setelah 15 tahun bersama. Lalu kehilangan satu-satunya tempat bermulanya si jabang bayi dari tubuhmu. Terpaksa, tak rela tapi tak terelakkan.
Kau merasa lemah tak berdaya. Tak kuasa menahan air mata yang menitik di ujung matamu. Namun kuyakin kau tetap tegar, tabah dan tawakal mengarungi perjalanan hidupmu. Sebab hatimu selembut awan.
Engkau tentu tahu dibalik awam mendung kelabu, tersembunyi sinar hangat sang mentari. Maka yakinlah selalu bahwa setelah kesulitan menanti kemudahan sebab Allah Yang Maha Pengasih tak akan memberi cobaan kepada hambanya kecuali sesuai kemampuannya.
Satu hal yang pasti, aku, saudara dan sahabatmu selalu mendoakan kebahagiaanmu.
Bekasi, 05052010 1524
skip to main |
skip to sidebar
Tampilkan postingan dengan label her. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label her. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 Mei 2010
Selasa, 27 Oktober 2009
Terpuruk
Siang ini langit cerah. Biru bersih tanpa awan. Sang mentari bersinar dengan megahnya. Namun hatiku mendung. Gelap bagai disaput awan kelabu. Suram. Kelam. Serta merta pergi membawa ketenangan jauh dari kalbuku.
Pengakuan itu betapa mengejutkanku. Meski tlah terduga sebelumnya. Tetap saja membuatku terhenyak. Terhempas. Bagai ombak pecah menjadi buih di tepian pantai. Hancur luluh tak bersisa.Nyeri. Pedih. Perih. Sedih menghimpit di dadaku.
Kemanakah kau bawa nuranimu pergi? Hanya karena kebutuhanmu tak terpenuhi, tak semestinya kau mengejar harapan palsu berselimut ironi. Meski kutahu penderitaan yang kau alami, tak seharusnya kau lakukan kenistaan bagai perempuan hina tak berbudi. Terpuruk. Tersungkur. Tertutup noda.
Aku tak ingin menghakimi. Tak pula mendakwamu bagai penjahat tak berperi. Hanya satu pasti yang kubisa. Mendoakanmu semoga bahagia.
Bekasi, 271009 1448
Pengakuan itu betapa mengejutkanku. Meski tlah terduga sebelumnya. Tetap saja membuatku terhenyak. Terhempas. Bagai ombak pecah menjadi buih di tepian pantai. Hancur luluh tak bersisa.Nyeri. Pedih. Perih. Sedih menghimpit di dadaku.
Kemanakah kau bawa nuranimu pergi? Hanya karena kebutuhanmu tak terpenuhi, tak semestinya kau mengejar harapan palsu berselimut ironi. Meski kutahu penderitaan yang kau alami, tak seharusnya kau lakukan kenistaan bagai perempuan hina tak berbudi. Terpuruk. Tersungkur. Tertutup noda.
Aku tak ingin menghakimi. Tak pula mendakwamu bagai penjahat tak berperi. Hanya satu pasti yang kubisa. Mendoakanmu semoga bahagia.
Bekasi, 271009 1448

