Aku yang gila karena kamu. Tergila-gila jatuh cinta kepadamu. Bahkan hampir gila saat kamu pergi dari sisiku.
Dirimu yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi gila yang menyesakkan dada. Kenanganmu yang memaksa muncul saat kulewati tempat-tempat dulu kau dan aku habiskan waktu bersama.
Ingatan tentangmu yang tak pernah pergi dari benakku. Meski tlah kurelakan dirimu bersamanya dan kupasrahkan diriku kepada yang lain. Tetap saja tak merubah apapun yang pernah kurasakan kepadamu.
Kamu tetap setia bersemayam di sudut hatiku yang terdalam.
Apakah cinta pertama tak pernah mati? Ataukah ini hanya obsesi gilaku karena tak pernah memiliki dirimu. Aku tak pernah tahu.
Yang kutahu. Aku jadi gila karenamu.
skip to main |
skip to sidebar
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Maret 2011
Sabtu, 25 September 2010
Kangen
Aku lagi kangen nih
Kangen berat sama kamu
Tak ada angin tak ada hujan
Tiba-tiba saja kuingin dekat kamu
Kangen memandangmu waktu kamu tersenyum menatapku
Kangen menyentuhmu waktu aku erat didekapmu
Aku jadi kangen nih
Kangen banget sama kamu
Tak bisa ditahan tak bisa ditunda
Tiba-tiba saja kuingin ketemu kamu
Kangen waktu melintas di jalan-jalan yang pernah kulewati bersamamu
Kangen waktu datang ke tempat-tempat yang pernah kudatangi bersamamu
Ah, aku jadi kangen lagi sama kamu
Bekasi 25092010 2147
Kangen berat sama kamu
Tak ada angin tak ada hujan
Tiba-tiba saja kuingin dekat kamu
Kangen memandangmu waktu kamu tersenyum menatapku
Kangen menyentuhmu waktu aku erat didekapmu
Aku jadi kangen nih
Kangen banget sama kamu
Tak bisa ditahan tak bisa ditunda
Tiba-tiba saja kuingin ketemu kamu
Kangen waktu melintas di jalan-jalan yang pernah kulewati bersamamu
Kangen waktu datang ke tempat-tempat yang pernah kudatangi bersamamu
Ah, aku jadi kangen lagi sama kamu
Bekasi 25092010 2147
Jumat, 17 September 2010
Hujan Sore Hari
Sore ini hujan turun lagi. Berjuta titik air bagai tercurah dari langit senja. Semilir angin bertiup perlahan. Dingin hingga membuatku meringis.
Entah kenapa hanya kamu yang selalu terlintas di benakku di saat-saat seperti ini. Mungkin karena begitu banyak kenangan tentangmu yang tak mungkin terlupakan. Atau memang hanya aku yang tak ingin melupakan semua kenangan itu.
Sekeras apapun usahaku untuk lepas dari bayanganmu, semakin dalam jejakmu tertancap di sudut hatiku. Membuatku menyerah kalah.
Membiarkan kenanganmu selalu mengusik hidupku. Kembali hadir di saat-saat seperti ini. Saat hujan turun di sore hari.
Entah kenapa hanya kamu yang selalu terlintas di benakku di saat-saat seperti ini. Mungkin karena begitu banyak kenangan tentangmu yang tak mungkin terlupakan. Atau memang hanya aku yang tak ingin melupakan semua kenangan itu.
Sekeras apapun usahaku untuk lepas dari bayanganmu, semakin dalam jejakmu tertancap di sudut hatiku. Membuatku menyerah kalah.
Membiarkan kenanganmu selalu mengusik hidupku. Kembali hadir di saat-saat seperti ini. Saat hujan turun di sore hari.
Kamis, 03 September 2009
Kenangan
Seraut wajah dan seulas senyuman hadir kembali tatkala kenangan masa lalu itu berkelebat merambat, perlahan namun pasti menyeruak ke alam masa kini. Wajahmu. Senyumanmu. Meski tak ada lagi nyeri menghunjam di dada, pun air mata menitik membasahi pipi, kuakui kenanganmu tak pernah jauh-jauh meninggalkan tempatnya bersemayam di suatu tempat dalam benakku entah dimana.
Ada saat-saat dimana kenanganmu muncul dalam bentuk mimpi-mimpi menggelisahkan di malam-malam dingin terguyur hujan. Mengusik ketenangan dalam diam yang terasa kian menyesakkan dada. Mengorek kembali luka lama yang tak akan pernah pulih sempurna. Menghidupkan kembali asa yang dulu pernah kubangun bersamamu.
Terbetik keinginan menggelitik untuk mengulang kembali apa yang sudah hilang musnah ditelan sang waktu. Namun perbedaan diantara diriku dan dirimu yang terbentang lebar memisahkan apa yang telah terpisah untuk selamanya. Memuskilkan segala impian dan harapan untuk kembali menata keping-keping hati yang luluh lantak karena kehilangan belahan jiwa. Kehilanganmu belahan jiwaku.
Meski kutak pernah tahu seberapa dalam kenanganku hidup dalam dirimu, kutahu pasti kenanganmu hidup bersama diriku. Sepanjang hayatku.
Bekasi, 130509 0106
Ada saat-saat dimana kenanganmu muncul dalam bentuk mimpi-mimpi menggelisahkan di malam-malam dingin terguyur hujan. Mengusik ketenangan dalam diam yang terasa kian menyesakkan dada. Mengorek kembali luka lama yang tak akan pernah pulih sempurna. Menghidupkan kembali asa yang dulu pernah kubangun bersamamu.
Terbetik keinginan menggelitik untuk mengulang kembali apa yang sudah hilang musnah ditelan sang waktu. Namun perbedaan diantara diriku dan dirimu yang terbentang lebar memisahkan apa yang telah terpisah untuk selamanya. Memuskilkan segala impian dan harapan untuk kembali menata keping-keping hati yang luluh lantak karena kehilangan belahan jiwa. Kehilanganmu belahan jiwaku.
Meski kutak pernah tahu seberapa dalam kenanganku hidup dalam dirimu, kutahu pasti kenanganmu hidup bersama diriku. Sepanjang hayatku.
Bekasi, 130509 0106
Cinta
Sehelai daun luruh dari tangkainya diterbangkan angin yang berhembus perlahan. Hujan turun rintik-rintik, namun seberkas sinar matahari menyembul diantara gumpalan-gumpalan awan kelabu menghangatkan bulir-bulir air hujan yang menempel di helai demi helai rerumputan yang terhampar laksana permadani alam. Lukisan indah Sang Maha Pencipta Keindahan.
Aku dan kamu berdiri di seberang jalan. Memandang ke satu-satunya tempat aku dan dirimu pernah menghabiskan suatu masa bersama. Terpana. Terpesona. Terkejut. Takut. Perasaan campur aduk menyatu manakala teringat kenangan yang terukir disana, suka maupun duka, tetap terpatri dalam ingatan kita berdua. Dulu. Kini. Sampai nanti.
Kamu mendekat. Berdiri di hadapanku dengan rasa canggung yang kentara, terpantul dari sorot matamu yang tajam. Menatapku lekat-lekat seakan ingin menembus jauh ke dalam relung hatiku. Mencari tahu apa yang tersirat dalam bayangan mataku saat aku balik menatapmu. Tebersit rasa yang dulu selalu kupendam saat tatapanmu singgah di wajahku. Rindu yang kusimpan rapi di sudut hati yang terdalam untukmu. Hanya kepadamu.
Seulas senyum tersungging di bibirmu yang indah. Lalu, tanpa sepatah katapun terucap kau meraih jemariku untuk kau tautkan di jari jemari kuat milikmu. Mengalirkan kehangatan dari puncak ubun-ubun hingga ke ujung kaki. Menggetarkan seluruh sendi-sendi di tubuhku yang mengigil kedinginan. Entah oleh angin yang berhembus kencang atau sentuhanmu di jariku. Aku merona. Kubalas senyummu dengan kerlingan mataku. Dan akupun tersipu.
Kau semakin mempererat genggamanmu di tanganku saat pipiku bersemu merah menahan malu. Hatiku terasa hangat hanya dengan memandang senyuman menghiasi wajahmu yang teduh. Apakah ini mimpi atau kenyataan? Aku dan kamu tak akan pernah tahu. Namun, tatkala mata saling menatap, jari saling menggenggam dan hati saling bertaut, tak perlu seribu kata untuk mengerti apa yang ada dalam hatiku dan hatimu. Cukup dalam diam aku dan kamu saling memahami. Bahwa hanya ada satu kata yang melukiskan apa yang dirasakan oleh hati yang saling merindu. Cinta.
170409 2227
Aku dan kamu berdiri di seberang jalan. Memandang ke satu-satunya tempat aku dan dirimu pernah menghabiskan suatu masa bersama. Terpana. Terpesona. Terkejut. Takut. Perasaan campur aduk menyatu manakala teringat kenangan yang terukir disana, suka maupun duka, tetap terpatri dalam ingatan kita berdua. Dulu. Kini. Sampai nanti.
Kamu mendekat. Berdiri di hadapanku dengan rasa canggung yang kentara, terpantul dari sorot matamu yang tajam. Menatapku lekat-lekat seakan ingin menembus jauh ke dalam relung hatiku. Mencari tahu apa yang tersirat dalam bayangan mataku saat aku balik menatapmu. Tebersit rasa yang dulu selalu kupendam saat tatapanmu singgah di wajahku. Rindu yang kusimpan rapi di sudut hati yang terdalam untukmu. Hanya kepadamu.
Seulas senyum tersungging di bibirmu yang indah. Lalu, tanpa sepatah katapun terucap kau meraih jemariku untuk kau tautkan di jari jemari kuat milikmu. Mengalirkan kehangatan dari puncak ubun-ubun hingga ke ujung kaki. Menggetarkan seluruh sendi-sendi di tubuhku yang mengigil kedinginan. Entah oleh angin yang berhembus kencang atau sentuhanmu di jariku. Aku merona. Kubalas senyummu dengan kerlingan mataku. Dan akupun tersipu.
Kau semakin mempererat genggamanmu di tanganku saat pipiku bersemu merah menahan malu. Hatiku terasa hangat hanya dengan memandang senyuman menghiasi wajahmu yang teduh. Apakah ini mimpi atau kenyataan? Aku dan kamu tak akan pernah tahu. Namun, tatkala mata saling menatap, jari saling menggenggam dan hati saling bertaut, tak perlu seribu kata untuk mengerti apa yang ada dalam hatiku dan hatimu. Cukup dalam diam aku dan kamu saling memahami. Bahwa hanya ada satu kata yang melukiskan apa yang dirasakan oleh hati yang saling merindu. Cinta.
170409 2227

